tahun, baru saja lewat

tahun baru
sekian kalinya lewat begitu saja tanpa begadang
aku tak menyesal
bahkan aku merasa jadi dewasa
tahun baru
pun tak pernah sekalipun kulewati bersamamu
Yang aku tahu cuma dua jam tiga puluh tiga menit lewat beberapa detik sebelum malam pergantian tahun. kau sedang mendengarkan lantunan lirik yang sudah diulang keseribuan kali dalam satu minggu
Sayangnya
aku tak tahu lagu apa yang mampu membuatmu begitu terpaku

kamu di tangga ke seribu

tangga

 kutahu
 mengejarmu
 bukanlah kemustahilan
 hanya
 lagi-lagi aku risih
 setiap aku melangkah
 aku meniti anak tangga
 yang sama
 dan selalu kembali
 di tempat semula
 berulang sudah
 tanpa bosan
 hasilnya serupa saja
 agaknya kamu benar
 seperti katamu
 aku tidak bersikukuh dengan sungguh
 lalu
 kalau begitu
 masih berhak-kah aku cemburu
 lagi-lagi
 jawabnya
 cuma kucari
 lewat menghitung-hitung anak tangga yang sama
 tapi asyik juga
 di setiap hitungan seribu
 kutulis namamu
 arrrrgh aku rindu

karena hati aku berhati-hati

karena punya hati kucintai kau lewat sembunyi
karena punya hati kupuja engkau lewat mimpi
tak tersentuh memang
kau tak pernah kumiliki
ragamu entah dimana
tapi karena punya hati pulalah kau ada dimana-mana
di setiap langkah kemanapun kaki pergi
dan karena punya hati pulalah aku kerap ragu
kenapa aku mengabaikan hatimu
maaf, aku terlalu berhati-hati untuk mengerti
kau juga punya hati

malam minggu

malam mimggu
seperti yg lalu lalu
menunggumu
cuma itu yg aku mampu
kamu?

“Will I erase all?”

aku suka siapapun
yang membiarkan dirinya menjadi makhluk yang bertanya-tanya
namun saat kau pertanyakan “itu”
aku sungguh kehabisan kata-kata
bisakah kau tunda barang sejenak?